Sepatah Kata

SEPATAH KATA SEMANIS KURMA...

Seperti halnya kereta dengan gerbong-gerbongnya yang panjang, kehidupanku pun demikian. Diantara gerbong-gerbong hidupku mungkin ada kamu--my beloved family, my dearest friend yang membuat kereta kehidupan-ku menjadi penuh arti dan sesak dengan canda dan tawa. Untuk Cintaku, aku akan selalu menemanimu dan terus mendukungmu sampai kapanpun, sampai bila-bila, dan untuk keluargaku nun jauh di Indonesia (Jakarta dan di Lampung) one day we will meet again I promise, dan untuk sahabat-sahabatku tetaplah jadi temanku yang selalu menemaniku anytime anywhere.

Kereta kehidupan akan bertutur tentang diriku, dan kehidupanku disini, di negara yang masih baru bagiku Malaysia, di sebuah negeri yang terkenal dengan pantai timurnya, dengan hutan tropikalnya yang cantik, serta laut-lautnya yang tetap dibina semula jadi (natural), yah negeri Pahang Darul Makmur dengan bandar (ibukota) Kuantan, bersama suami dan anak-anakku tercinta.

Dan untuk teman-teman dunia mayaku yang baru aku kenal, salam kenal ya... mudah-mudahan kita bisa menjadi teman juga ya... *_^


Daisypath Anniversary tickers

Selasa, 13 Maret 2012

Bermain, Bagian dari Belajar...

Harapan setiap orangtua mungkin sama yaitu menginginkan mereka lebih segala-galanya daripada kita selaku orangtua. Yah lebih cerdas, lebih pandai, lebih terampil, lebih enerjik dan segudang kelebihan-kelebihan lain yang kita harapkan dari dirinya. Sejak kita mendengar istilah golden age dalam 10 tahun terakhir ini, kita para orangtua sedemikian rupa berupaya mengoptimalkan potensi anak sejak usia dini. Tidak ada yang salah mengenainya jika dirangsang dengan tepat pada usianya. Namun yang justru terjadi adalah menjejali mereka dengan segudang aktivitas (baca: les) sehingga tanpa sadar kita seringkali mengabaikan kebutuhan asas dari diri seorang kanak-kanak yaitu BERMAIN.
Tulisan dibawah ini mengajak kita para orangtua untuk mengetahui betapa pentingnya bermain bagi perkembangan kognitif, motorik dan aspek sosial kanak-kanak itu sendiri. Selamat membaca!

******************
******************
Jangan dikira kegiatan belajar cuma bisa dilakukan di dalam kelas atau membuka-buka buku, kegiatan bermain tenyata juga bermanfaat untuk mengembangkan seluruh kapasitas anak. Bahkan, 70 persen perkembangan otak anak pada tiga tahun pertama usianya dioptimalkan dengan bermain.

Sayangnya, masih saja ada orangtua yang mempersepsikan salah kegiatan bermain. Bagi mereka, bermain adalah kegiatan fisik hiburan sehingga tidak dianggap penting. Berdasarkan sebuah penelitian, waktu bermain anak telah mengalami penurunan dari 40 persen di tahun 1980-an menjadi 25 persen di akhir tahun 1990-an.

Memang tak bisa dipungkiri kenyataan ada orangtua yang lebih suka anaknya belajar atau beristirahat daripada bermain. Hal tersebut dikarenakan tingginya ekspektasi orangtua pada anaknya untuk berprestasi dalam bidang akademik tanpa menyadari adanya tekanan pada anak.

"Saat ini kita memang harus bertempur dengan tren kegiatan anak adalah belajar sejak kecil. Belajar dalam pengertian yang kaku," cetus dra. Mayke STedjasaputra, M.Si, psikolog dan play terapist dalam acara peluncuran Kampenya Bermain ELC yang diadakan oleh Early Learning Center (ELC) di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Mayke menegaskan bahwa kegiatan bermain sama pentingnya dengan pendidikan. Terlebih, bermain merupakan hak anak. "Lewat kegiatan bermain, anak belajar. Ada banyak pengalaman baru yang dialami anak, apalagi kemampuan seorang anak barulah praoperasional sehingga mereka perlu melakukan eksplorasi, melihat, meraba, atau menyentuh suatu obyek," paparnya.

Ketika bermain, seorang anak juga akan belajar melalui trial and error sehingga mempunyai pengalaman dunia nyata. "Anak perlu pengalaman langsung dan konkret sebab kapasitas kognitif anak kecil belum siap belajar sesuatu yang abstrak," tambah Mayke.

Dengan bermain, menurut Mayke, ada tiga area perkembangan anak yang akan terpacu, yakni motorik, kognitif, dan sosial. Sisi motorik anak akan terangsang sebab mereka bergerak dan menggunakan seluruh senses dan anggota tubuhnya. "Kecerdasan atau kognitifnya juga terasah sebab dari tidak tahu, anak menjadi tahu," paparnya.

Anak juga akan mengerti perbedaan antara milik sendiri dan milik temannya. "Bermain dalam kelompok juga akan membantu mengembangkan rasa percaya diri anak dan bermanfaat untuk kemampuan sosialnya. Ia juga akan belajar cara mengekspresikan idenya," urai pengajar senior di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Syarat utama dari kegiatan bermain adalah menyenangkan dan aman. Mayke juga menyarankan agar alat permainan dan jenis permainan disesuaikan dengan usia dan keunikan anak. "Apabila anaknya tergolong aktif dan tidak bisa diam, kita bisa memilihkan permainan yang membuatnya terus bergerak, misalnya memasukkan bola ke dalam keranjang sesuai warnanya. Anak jadi bisa tetap berlari-lari, tetapi juga belajar mengenal warna," katanya.

Bermain memang tidak selalu harus menggunakan alat, tetapi pada umumnya anak menyukai mainan. Dalam memilih mainan untuk anak, ada beberapa petunjuk yang bisa dipakai, seperti apakah mainan itu aman digunakan dan apakah mainan tersebut sesuai dengan tahap perkembangan anak. Untuk mengetahuinya, biasanya di dalam kemasan buatan pabrik tertera usia yang cocok untuk permainan tersebut.
@kompas.com
********
sumber:http://www.duniaedukasi.net/2010/11/bermain-bagian-dari-belajar.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar