Sepatah Kata

SEPATAH KATA SEMANIS KURMA...

Seperti halnya kereta dengan gerbong-gerbongnya yang panjang, kehidupanku pun demikian. Diantara gerbong-gerbong hidupku mungkin ada kamu--my beloved family, my dearest friend yang membuat kereta kehidupan-ku menjadi penuh arti dan sesak dengan canda dan tawa. Untuk Cintaku, aku akan selalu menemanimu dan terus mendukungmu sampai kapanpun, sampai bila-bila, dan untuk keluargaku nun jauh di Indonesia (Jakarta dan di Lampung) one day we will meet again I promise, dan untuk sahabat-sahabatku tetaplah jadi temanku yang selalu menemaniku anytime anywhere.

Kereta kehidupan akan bertutur tentang diriku, dan kehidupanku disini, di negara yang masih baru bagiku Malaysia, di sebuah negeri yang terkenal dengan pantai timurnya, dengan hutan tropikalnya yang cantik, serta laut-lautnya yang tetap dibina semula jadi (natural), yah negeri Pahang Darul Makmur dengan bandar (ibukota) Kuantan, bersama suami dan anak-anakku tercinta.

Dan untuk teman-teman dunia mayaku yang baru aku kenal, salam kenal ya... mudah-mudahan kita bisa menjadi teman juga ya... *_^


Daisypath Anniversary tickers

Selasa, 22 Desember 2009

Bingung mo nulis apa....ngga ada ide *#*$+"*#* ya sudahlah nukil dari tumpukan tulisan2ku yang berserakan di fileku. Belum semuanya tapi ternyata banyak juga ya...(ngga nyangka :) Daripada ngga dibaca siapa-siapa, aku letakkin disini aja, siapa tahu bisa bermanfaat untuk orang lain. Yah jika pun tidak, buat kenang-kenangan di masa tuaku nanti....

Bye.

Tak Kuasa Menolak

 27 Mei 2006
-----
 
"Ting tong…", terdengar bunyi bel rumah.
"Dare desu ka?", kataku lewat mikrofon dari dalam rumah.
"Yubinkyouku desu…" kata suara yg keluar dari mikrofon itu.
"Hai, hai, chotto matte kudasai ne…", sambil bergegas menuju pintu rumah. Bayanganku akan menerima sesuatu kiriman entah itu surat dari adekku yg senantiasa mengirimiku kabar ataupun yang lainnya yg membuat hatiku senang surut perlahan. Ternyata bukan surat atau sesuatu yg kuharapkan sebelumnya. Kudapati seorang pria sedang hormat didepanku.
Seorang pria muda dgn balutan jas berdasi rapi menyapaku dengan sangat sopan. Yah wajar saja namanya juga orang jepang, yg terkadang menurutku sikap terlalu sopannya menjadi diri ngga enak sendiri melihatnya atau emang diri ini biasa tak sopan hehehe. Tidak lama sebuah brosur yg isinya berbagai macam "Hoshiimono" keluar dari tas hitamnya yg besar, "hoshiimono" ini bahasa serabutan yg kupakai utk menggambarkan barang-barang yang diinginkan. Entah benar atau tidak istilah itu utk menyebutkan berbagai macam makanan dan minuman yang tertera dijual disana, yang jelas pria berbalut jas itu mengerti. Tanpa aku pinta Pria yg akhirnya kutahu bernamaYamanaka-san itu menjelaskan bahwa pemesanan ditulis sesuai hoshimono yg tertera tiap bulannya. Misalnya bulan Juni, Juli dst ingin hoshimono apa, yah diisi di formulir isian yg secepat kilat dia sodorkan juga. Waduhhh sabar toh mas Yamanaka….
Kulirik lagi brosur itu antara mau tak mau, sambil fikiranku menduga-duga, ohh orang ini jualan toh, wakk musti beli dongggg!! Eng ing eng…rambu kuning di kepalaku mulai keluar warnanya.
Tapiii, apa kaitannya dgn yubinkyouku? pikirku heran. Hmmm ternyata pemesanan dilakukan lewat jasa pos toh! Jelas sudah.Walau memakan waktu cukup lama di depan pintu utk mengerti bhsnya Yamanaka-san itu akhirnya ngerti juga maksud kedatangannya. Mungkin begitu jugaYamanaka-san berusaha keras berkomunikasi dgnku dgn bahasa yg mudah hehehe…
"Tapi, disini kan dekat dgn Supa, Desyou?" tak kuteruskan kalimat selanjutnya.
"Iya, tapi hoshimono ini dari tempat2 terkenal dan pilihan, memang sedikit mahal tapi rasanya berbeda dari supermarket biasa…" katanya berusaha meyakinkanku.
"Tolong lihat dulu", katanya lebih lanjut.
"Tapi saya tidak tahu apa saya akan beli atau tidak…"
"Tidak apa-apa, beli dua atau satu juga tidak mengapa…"
Waduhhh gigih bener nih orang….maksudku tuh mas maunya ngga beli!!
"Yah udah saya liat dulu yah…"
"ARIGATOU GOZAIMASU…"  katanya bahagia sambil menunduk berkali-kali.
Duhh si mas…bikin ngga enak hati aja.
"Saya datang lagi besok.."
"HAhh, besok? untuk apa mas? saya akan kirim ke pos sendiri kok," rambu kuning kembali kedap-kedip.
"Saya akan jelaskan bagaimana cara pengisiannya besok dan pengisiannya harus lewat saya"
"Tapi saya tidak tahu loh akan beli atau tidak", kataku meyakinkannya lagi.
"Hai, daijoubu des, arigatou gozaimasu" kata Yamanaka-san mengakhiri pembicaraan panjang kami.
Fuihhh. Lemas aku dibuatnya. Setengah terpaksa kubuka kembali brosur yg diberikannya, hoshimono mulai dari bulan Januari sampai Desember ada disana. Sambil fikiranku melayang-layang besok aku harus berkata apa yah utk menolaknya. Harus ada cara pokoknya… Kubalik-balik lagi lembar demi lembar, hmmm keliatannya buah bulan ini enak, hmmm yogurt ini keliatannya enak, Nanami pasti suka, dan sempat kulirik susu kedelai yg tertera disitu, wahhh ini bagus nih utk ibu hamil. HUUUSHH!! apa yg aku pikirkan? Diriku membuyarkan sendiri lamunanku. Bukannya tadi udah pasti mau menolak besok!!! Dasar Sales pikirku, emang pinter dia jualan.

Pengalaman ini bukan sekali aku alami selama aku disini. Setahun lalu pernah kami berlangganan koran berbahasa inggris, itu juga karena eksiden spt ini, ngga enak menolak, dan juga ngga ada buruknya berlangganan koran, sama spt sekarang ini ngga ada buruknya menikmati sesekali hoshimono yg agak mahal itu. Padahal ingat2 waktu di tanah air, kalau ada yg permisi-permisi mau jualan, buka setengah pintu dan cukup berkata "maaf mas, lain kali aja". Setelah itu langsung tutup pintu kembali. Sebenernya siapa yg ngga sopan yah?? Malu aku kalau ingat dulu-dulu…
Akhirnya untuk ketiga kalinya dia datang lagi ke rumah untuk mengambil formulir isian yg telah aku isi. Salut aku sama kegigihan Yamanaka-san pdhal sudah aku kasih alasan macam-macam, tapi justru krn kesopanannya lah aku tak kuasa menolak. Kesopanan sudah menjadi ciri khas orang jepang sptnya. Bahkan terkadang ketika berada di lift pun seorang nenek bersikeras mendahulukanku utk keluar dahulu. Siapa yg merasa lebih muda yah?? Tapi mungkin saya juga harus belajar bagaimana utk menolak seseorang tanpa menyakiti perasaan orang lain. Jangan sampai akhirnya kita melakukan sesuatu dgn sia-sia, tanpa manfaat sama sekali dan tanpa niatan yang tulus ikhlas.

Ke Sensei yuk...

Ke Sensei yukk…
—5 Juli 2006---
Hari ini, kulihat putriku semangat sekali. Lihatlah pagi ini belum lagi pukul 10, sudah rapi ia.
"Mau kemana Nami?" sapaku padanya
"Mau ke sensei…" katanya polos
"Sama adek Salsa juga ya Ma…", sambungnya lagi.
"Sama Tante Deasy juga ya Ma…", katanya lagi "Iya…, Eh, nanti kalau ketemu sensei, gimana? buka perutnya, buka mulutnya, kasih liat pantatnya, jusss…, gitu ya nanti…, ngga boleh nangis….Ya?" pesanku padanya.
"Buka pelutnya, Aaaa…" mengulangi kata2ku sambil tangannya sibuk membuka baju, mulut dan memperlihatkan pantatnya. Pagi ini dia sikat gigi dgn lebih bersih krn mau memperlihatkan gigi2nya sama sensei.

Semalam, kami latihan, main drama-dramaan, ceritanya aku jadi senseinya, dan Nami-chan jadi pasiennya. Kami melakukan aktivitas sensei-pasien dgn jarum suntik sebuah pensil tumpul. Hari ini Nami rencananya akan diberi vaksin DPT Booster. Telat memang. Akhirnya berangkatlah kami ke Klinik dekat rumah. Disana kami bertemu adek Salsa.
"Salsa…", sapa Nami gembira sekali bertemu dgn adek Salsa. Hari ini hatinya bahagia seakan mau mendapat permen saja.
Di ruang tunggu, mereka bermain-main kecil. Belum terlihat rasa takutnya. Aku senang. Pikirku berhasil latihan semalam.Giliran pertama, Salsa masuk bersama Bunda. Ngga lama, Salsa yang manis sekali dgn pink-nya itu, keluar lagi utk melihat akuarium di ruang tunggu. Suster dan Bundanya akhirnya terpaksa mengangkut Salsa masuk kembali. Hihihi.
Semenit didalam, belum terdengar suara apapun. Menit kedua, mulailah terdengar suara tangis Adek Salsa. Kulirik ke Nami. Dia mulai waspada dan mulai sedikit meringis. Salsa akhirnya keluar dgn berlinang air mata. Salsa menerima stiker lucu, hadiah dari suster karena telah melakukan dgn baik. Nami mulai meronta.
Berikutnya gilirannya. Nami-chan pun mulai menangis. Tangisnya tambah keras saat melihat baju seragam putih-putih yang dikenakan sang dokter.
"Moshi moshi…" kata dokter.
"Uaaaaa…." teriak Nami-chan
Nami-chan dipegang papanya duduk berhadapan dgn dokter. Sambil berlinang air mata ia tetap mau membuka baju dan mulutnya seperti latihan semalam, hanya pada saat disuntik, tangisnya meledak. Gagal sudah latihan semalam.
Namun tidak lama tangisnya pun berhenti krn asyik dgn stiker yg diterimanya… Dasar, anak-anak…pikirku. Rasa sakitnya sudah tidak dirasakannya lagi. Keceriaannya bertemu dgn adek Salsa melupakan rasa sakitnya.

"Ngga sakit kan…"
"uhh uhh…", katanya tiba-tiba meringis pura-pura.
"Bulan depan, kita kesini lagi ya…" bisikku padanya
"Bulan Apa Ma…?" katanya ngga paham maksud kata-kataku. Hehehe…Pikirnya pasti bulan dan bintang di waktu malam.
"Nanti kita kesini lagi ya…, nanti masih lama…" "Yuk, habis ini kita beli buku yukk di Daie…"
"Ayo ayo….," soraknya gembira.

Yoku dekita ne Nami…

Nami ada uang kok...

6 Juli 2006
-----
Masih dalam rebahan di tempat tidur, kubisikkan ditelinganya kalau pagi ini Papa akan pergi ke Izumiya.
"Ikut, ikut, Nami ikut…", katanya spontan seketika mendengar kata pergi. Langsung ia menengok ke Papanya yang ada disebelahnya yang masih tidur-tidur ayam. Lelah sehabis ngeloper koran. Lelah pula sehabis bergadang nonton Pildun.
"Hayo Papa, okite, okite yo…", katanya sambil menggoyang-goyangkan badan Papanya.
"Nanti ya Jam 10, sekarang tokonya belum buka…, Papa masih ngantuk…"
"Hayo Papa, ayo, IKOU.."
"Ya udah Nami ganti baju dulu sana…", kataku. Segenap tenaga dia langsung berdiri dan minta digantikan baju padaku.
"Mandi dulu dong…"
"Ngga.."
Selepas berganti baju dan telah rapi, ia kembali membangunkan Papanya. Akhirnya setengah terpaksa, bangun juga si Papa. Hihihi gomennn.
"Ya udah, kita berangkat", kata Papa sama Nami
"Bye Mama…", katanya padaku.
"Eh, mama ngga diajak nih?" kataku pada putri manisku itu.
"Ngga, mama di rumah aja…"
DUHH, kasihan deh Mama.
"Hari ini Nami ngga boleh jajan ya…"
"Ngga boleh beli coklat dan permen ya…, permen Nami masih banyak!", kataku mengingatkan.
"Nami ada uang…" katanya spontan dgn intonasi yang menggemaskan. Tiba-tiba dia ingat akan dompet Dokin-chan kesayangannya yang biasa dia bawa setiap kali pergi Supermarket. Didalamnya beriiskan beberapa keping 1 yen-an. Dia selalu berhasil membeli sesuatu dgn uang yang diambil dari dompetnya itu. Pikirnya.
"Ohh gitu…tapi hari ini ngga jajan ya, ikut Papa aja ya…", kataku padanya.
Sama halnya jika kami bertemu dgn karakter bergambar Miki, Mini dan teman-temannya di flyers yang terdapat di Sannomiya. Dia selalu antusias dan mengambil satu flyer tsb.
"Mama, mau…"
"Mau apa?"
"Disnilen Mama, Yukk pergi disnilen yukk…", katanya setengah merajuk.
"Nanti yah, kalau mama papa udah punya uang banyak…"
"Ada uang…, Nami ada uang…", kilahnya.
Hehehe Nami Nami. Itulah anak-anak. Masih polos, masih hitam dan putih, apa yang dilihatnya hitam akan dikatakan hitam, apa yang dilihatnya putih akan dikatakannya putih.
"Tapi uang Nami kan ngga banyak…"
"O…gitu ya…"
GLEK.HEHEHE. Lagi kata-kata itu membuat kami tersenyum geli. Kata-kata "Oh gitu ya" atau "A so ka…", seringkali mewarnai kalimatnya yang mungkin dia sendiri belum tahu artinya.
"Iya…"
Balik lagi ke rencana pagi ini. Buru-buru dia menyari dompet kesayangannya dan menyangkutkan dompetnya itu di leher.
Si Papa yang sudah rapi dgn kaos oblongnya, dan Nami-chan yang sudah pula rapi dengan topi yang menyangkut di kepalanya yang besar itu siap pergi ke Izumiya naik sepeda.
"BYEE MAMA…", katanya menutup percakapan kami pagi ini.
"Bye Nami-chan…, hati hati ya…"

TASMIYATUL MAULUD (Memberi Nama Kepada Anak)

Ditulis 3 April 2006
-----------
Belakangan ini, kami sering berdiskusi ttg nama yang akan kami berikan kepada calon buah hati kami yang kedua, inshaallah (padahal masih lama lahirnya hehehe). Penggabungan nama-nama arab dan nama-nama jepang menjadi pilihan kami. Susah ternyata, ngga gampang beri nama anak itu. Inginnya kami nama anak itu memberi arti buat kami dan doa untuk dirinya, dan jug tidak tampak seperti banyak nama dalam namanya. Sejumlah nama-nama anak perempuan dari huruf arab begitu banyak yg cantik-cantik dan menjadi alternatif, tapi, nama utk anak laki-laki sepertinya tidak begitu variatif hehehe…. Sesungguhnya saya pribadi senang memberi nama-nama alam kepada anak. Karena alam dan segenap isinya senantiasa memberi manfaat pada banyak hal, pd makhluk sekitarnya, seperti nama  Asmarani yg berarti air dan gandum.Tapi tidak begitu dengan suami tercinta hehehe. Katanya kalau anak laki inginnya ada kesan gagah-berani (hehehe) dan kalau perempuan ada kesan cantik (hehehe lagi deh). Sebelum panjang diskusinya, saya mau kutip sedikit dari buku yg sedang saya baca saat ini, boleh yah?
Kutengok buku karangan Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam Menanti Buah Hati dan hadiah untuk yang dinanti, begitu sarat dengan pengetahuan ttg kelahiran anak itu sendiri. Buku ini dipinjamkan dari seorang teman disini.  Ahh, ternyata ada bagian ttg Memberi Nama kepada Anak atau dalam bahasa arabnya Tasmiyatul Maulud, hal. 152. Saya ingin kutip sedikit beberapa poin penting untuk saya pribadi, dan mungkin untuk teman2 saya yang juga sedang menunggu buah hati dan atau yang sedang merencanakan :)
Hakikat tasmiyah (pemberian nama) ialah untuk mengenal terhadap sesuatu yang dinamakan. Dalam masalah pemberian nama kepada anak, Islam telah menetapkan beberapa peraturan yang berbeda dengan kebiasaan jahiliyyah.
Dari beberapa hadits shohih yang diuraikan dalam buku tsb, saya ringkas saja, diantara fawaa-id (faedah-faedah) dari lima hadits yang dipaparkan, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam memberi nama, ialah:
1. Memberi nama kepada anak pada hari kelahirannya.
2. Men-tahnik-nya pada hari kelahiran. Tahnik ialah mengunyah sesuatu kemudian memasukkan ke mulut bayi dan menggosok-gosokkannya ke langit-langit mulut bayi.
Ketika Abu Thalhah mendapat anak, beliau langsung membawanya kepada Nabi shalallahu `alaihi wa sallam. Kemudian Nabi shalallahu `alaihi  was sallam mentahniknya dengan kurma, dan menamakannya: Abdullah. (Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dalam hadits yang panjang dari jalan Anas bin Malik)
3. Mendo`akannya. Yakni mengucapkan Barakallaahufiih, atau Allahumma barikfiih.
4.
Memberi nama dengan nama-nama para nabi dan rasul.
5. Memberi nama yang baik kepada anak.
6. Mengganti nama yang buruk kepada yang baik atau yang baik kepada yang lebih baik.
7. Meminta nama kepada orang-orang yang shalih (baca ahli ilmu dari Ahlus Sunnah bukan dari ahlul bid`ah).
8. Meminta dido`akan oleh orang-orang yang shalih.
9. Hak memberi nama kepada anak adalah hak bapak bukan ibu.
10. Diantara nama yang dicintai Nabi shallalahu `alaihi wa sallam ialah Abdullah.
Demikian, mudah-mudah tulisan yang saya kutip ini memberikan manfaat juga untuk yang lain, terutama untuk kami pribadi.

Saling Memahami, Sulitkah?

Usia pernikahan kami kini sudah memasuki angka 3, angka dimana jika diibaratkan seorang anak kecil, dia baru belajar menggambar lingkaran dgn baik, mulai menggambar kotak, mulai mengenal anggota tubuhnya dgn baik dan mendeskripsikannya ke dalam gambar, sudah bisa membuat/mengikuti garis sesuai dgn arahnya, mewarnai gambar agar tidak keluar garis, dsb dsb. Yah itulah usia dimana seorang anak penuh dengan berbagai kejutan dan kemajuan. Begita juga pernikahan kami, kejutan pasti, kemajuan…? wah nanti dulu, hehehe.
Malam itu sebal sekali aku padanya, gimana tidak? Selepas pulang dari kampus kakak-sapaan kesayanganku, kebiasaannya selama musim panas, adalah sesampainya di rumah segera mencopoti baju luar dan digeletakkinnya begitu saja di lantai pada ujung lorong pintu masuk rumah kami, selalu disitu, tidak ditempat lain!. Sampai aku bertanya-tanya dlm hati, ada magis apa di pojok lorong itu? apa dlm imejnya ada keranjang baju kotor kah disitu?? Kemudian selanjutnya pasti dia segera menyalakan tipi dan memindahkan channel ke bagian olahraga baseball–salah satu acara terfavoritnya selama musim panas ini–tanpa permisi2 dulu pada penghuni sebelumnya yg lebih duluan nongkrong di channel yg lain, sambil melepas kaus kaki dan menggeletakkannya kembali di samping meja, ahhh bukan hanya disitu, kadang diletakkannya begitu saja tepat dia berpijak, gemas aku dibuatnya. Kalau kaus kaki itu aku biarkan tiga hari, sudah pasti ada tiga kaus kaki dalam tempat terpisah. Terkadang aku harus menyiuminya terlebih dulu utk membedakan apa ini yang kotor atau jatuhan saat aku mengangkat jemuran. WAKKK BAUUU!!!. Tak ketinggalan celana panjang nya pun dilemparnya di bawah meja makan, fuiihhhh.
"KAKAKKK, emangnya disini, disini dan disitu tuh keliatan spt keranjang cucian yah Kak?", celetukku seketika membuyarkan konsentrasinya.
"Eh, eh," katanya masih belum ngeh dengan maksud pembicaraanku.
"Ini loh…" kataku kesal.
"Hehehehe…" baliknya lagi. Balik lagi matanya ke arah layar televisi. Sepertinya ucapanku tak didengarnya, tak ada artinya baginya. HUHH!!.
"Coba dong kak, apa sih susahnya taruh di dalam mesin cuci, itung2 kan ngeringanin kerjaanku…apalagi perutku kan udah tambah besar nihh," protesku.
"Hehehehe…, kan sebentar lagi penderitaanmu berlalu say," candanya pada diriku yang seringkali meminta dirinya memijit bagian belakang tubuhku. Maklumlah, kehamilanku kini sudah memasuki bulan ke 6, seringkali aku merasa nyeri di bagian belakang tubuhku.
"Ini baju masih mau dipake lagi apa ngga, kak? kalau masih dipake lagi, mbok ya digantung disitu,"
"Itu tuh kebiasaan kamu, gantung semuaa, tuhhh liat udah penuh gantungan sama gantungan kamu, ngga bisa liat gantungan kosong," katanya sambil nunjuk ke tiang gantungan yang menghiasi dinding kamar kami.
"Hehehe…" gantian aku yang nyengir sekarang.
"Yah daripada di geletakkin di lantai, masih mending disitu…" kataku berusaha membela diri sendiri.
HUHH POKOKNYA SEBAL AKU!!

Tahun-tahun awal pernikahan kami, kebiasaannya itu aku anggap biasa, dan ngga ada komentar apapun ttg itu, hehehe, maklum deh namanya juga pengantin baru. Kebiasaan buruk menjadi hal yang indah saja. Saat itu pun dia tidak seperti skrg ini, setidaknya kebiasaan buruknya tidak lebih parah, hehehe. Begitu pun mungkin aku. Awal2 pernikahan masing2 masih Jaim, alias jaga imej, hehehe.
Tapi sekarang, dimana toleransiku? aku sudah mulai protes dgn kebiasaan buruknya. Apalagi setelah lahir anak pertama, dimana kesibukanpun bertambah. Jadi mikir aku, apa nanti sth anak kedua lahir, toleransiku malah hilang, hehehe.
Kalau anak balita tumbuh-kembangnya pasti ke arah kemajuan, tapi dlm suatu pernikahannnn wahhh nanti dulu, justru kebiasaan buruk bisa menjadi lebih buruk, kebiasaan tidak wajar menjadi wajar, akhirnya terbiasa sudah. MENGERIKAN!
Ternyata bukan hanya dia, diriku pun sama, sama-sama punya kekurangan, yah perihal gantungan itu salah satunya. Aku ngga pernah sadar hal itu ternyata mengganggu dirinya sama seperti kebiasaanya menggeletakkan apapun sembarangan.
Kalau dipikir-pikir emang manusia ngga ada yang sempurna, pasti ada saja kekurangannya. Disitulah rasa pengertian dan saling memahami diperlukan satu sama lain agar pernikahan tetap harmonis, amin. Ahhh mudah2an kami bisa melewati tahapan ini dgn bijak dan lapang dada. Bukankah Allah memberikan pahala atas suatu pekerjaan baik yang dilakukan dgn ikhlas? Bersyukur saya memiliki suami yang ngga pernah marah dan memerintah. Dimana rasa bersyukur saya?
—-
Dengan penuh cinta untuk semua…
Jumat, 9 Juni 2006

Senin, 21 Desember 2009

Cukup dua saja...

"Banyak anak banyak rezeki ya bu...," ujarku pada seorang kawanku yang memiliki tujuh orang anak. "Ya... anak memberikan rezeki..." balasnya.
"Hmm..., kalau di jakarta sudah umum orang tak ingin banyak anak, cukup dua saja..." lanjutku.
"Udah pada jenuh ya ngurus anak..." katanya lagi.
"Bukan bu, karena soal anak selalu dikaitkan dengan faktor biaya, ibu belum tahu ya, biaya daftar sekolah sekarang mahal sekali loh bu..." kataku sambil menguraikan daftar SDIT dengan tarif selangit yang aku ketahui. Maklumlah ibu yang aku ajak omong ini sudah 11 tahun menetap di malaysia.
"Oh ya?"
"Padahal ngga ada korelasinya ya bu..." kataku seakan-akan menuntut pembenarannya.
"Ya, anak membawa rezekinya masing-masing..."

Selama 6 bulan di Malaysia, seringkali aku jumpai mereka yang memiliki anak lebih dari 5 orang terutama ketika di kedai makan karena terkadang aku iseng menghitung jumlah kursi yang mereka tempati dan buat aku dan suami terkesima. Dua saja sudah bikin aku repot sampai taring2 di kepalaku keluar hahaha. Apalagi 5,6,7?? MasyaAllah, jika itu terjadi padaku apakah aku sanggup yah...?. Pernah suatu ketika aku kesal sekali dibuat si sulung, si kakak ngga mau ke tempat air pancuran sendiri saat berada di areal kolam renang padahal jaraknya dekat dan masih terlihat olehku. Ya udah deh marah aku padanya. Ibu ini menegurku supaya lebih bersabar. Ihhhh.... aku jadi malu deh, padahal anak dia ada 7 orang. Pastilah dia orang yang sabar.

Seorang ibu yang lain yang duduk disebelahku dan sedari tadi diam akhirnya menimpali. "Pokoknya yakin aja takdir dan rezeki itu ngga bakal ketukar..."
Sepanjang perjalanan menuju tempat halaqoh, saya meresapi kata-katanya. Kata-kata yang seringkali kudengar, tapi kali ini benar-benar menggugahku. "Ya... kita tidak pernah tahu takdir yang terjadi pada kita tapi yakinlah takdir dan rezeki itu tak akan tertukar..." hatiku berbisik. Yang terpenting adalah bagaimana kita mensyukuri semua pemberianNya. Kusentuh perutku yang tiba-tiba bergetar. Si adek dalam perut sedang bermain-main denganku. Sudah hampir 6 bulan usianya. Abdul. Bisikku.

Beruntung aku berada dalam teman-teman yang selalu mengingatkan, dan mengajakku untuk selalu dekat kepadaNya. InsyaAllah.

---Mama nanami dan souichiro, 20 Des 2009.

Dulu dan kini...

Dulu, kita bermain bersama
Dulu, kita berjalan bersama
Dulu, kita saling berpegangan tangan
Dulu, kita saling berpelukan

Tapi...
Kini, Kau katakan benci aku
Kini, Kau hinakan aku
Kini, Kau musuhi aku
Kini, Kau putusi aku

Sungguhkah kau katakan demikian?
Sungguhkah ingin kau sudahi semua?
Sungguhkah ingin kau putusi semua?
Silahturahmi yang sudah terikat?
Terikat kuat dalam benang merah yang sama...

Pilu aku teringat ucapmu
Jatuh pula airmata ini dipipiku
Tak terbendung ingin kutangisi
atas semua yang telah terjadi
dalam perbedaan sudut pandang
dalam perbedaan logika antara kita...

Bolehkan aku bencikan mu...?
Bolehkan aku sudahi semua...?
Bolehkah aku setujui semua...
ucapmu!!

Aku memang bukan sesiapa
Aku pun tak punya apa-apa...
Pun dalam hidup hanya sebuah titik kecil
Jadi jika kau anggap aku tiada
Itu tak mengapa...
Karena Dia selalu ada...

---fitri, 20 Desember 2009

Selasa, 30 Juni 2009

Duhh Nami chan!

--Rima ini dibuat ketika masih punya nami 4 th lalu, sekedar memori.
---
Duhhh Nami-chan,
Makin lucunya kamu,
Makin banyak tingkah-lakumu
yang mewarnai hari-hariku…

Belum juga dua tahun usiamu
Kamu sudah bisa ngambek,
Sudah bisa menolak,
Sudah bisa marah,
Pun sudah bisa meminta,
Papa-mama geleng-geleng dibuatmu…

Belum juga dua tahun usiamu,
Papa-mama jadi senyum-senyum sendiri
Liat kamu buka-lepas sepatumu sendiri,
Pakai sendalmu sendiri
Pakai celanamu sendiri
Pakai Pajamu sendiri
Walau masih terbalik-balik,
Namun kamu senang sekali…

Belum juga dua tahun usiamu…
Sukanya sama Buku…
Buku cerita dan bergambar
Ada Oneechan seperti di tipi
Asyik sekali…

Belum juga dua tahun usiamu…
Buang sampah di tempat sampah
Lepas sepatu kalau masuk rumah
Cuci tangan-kaki kalau habis main
Ternyata banyak sudah yang kamu ngerti …

Belum juga dua tahun usiamu,
Kamu sudah mau makan sendiri
Sikat gigi sendiri
Mandi juga mau sendiri
Padahal badan belum bersih
Itu liat gigimu kuning dgn pasta gigi!

Belum juga dua tahun usiamu…
Gigi sudah berderet komplit
Kalau tersenyum,
Bikin obaachan dan ojiichan
Senyam-senyum mabuk kepayang….

Belum juga dua tahun usiamu…
Maunya main perosotan
Maunya main sama teman
Maunya gelantung di tiang-tiang
"Koen koen…" (ingin pergi ke taman maksudnya)
Ngerajuk bukan kepalang…
Kukatakan "Ikimashou…" (Lets go..)
Kamu menjawab lantang "IKOU!!" (Lets go)

Belum juga dua tahun usiamu
Sukanya buka kulkas
Ngga mau tutup lagi
Cari-cari yang disuka
Cari-cari yang dimau
Tidak dapat yang dicari
Liat meja di dapur
Ada makanan campur-campur
"Waa Oishoo…," katanya…(Wahh keliatannya enak..)
Mama jadi terhibur…

Belum juga dua tahun usiamu
Maunya dibonceng naik sepeda
Sambil kubernyanyi-nyanyi
Mengubah syair sesuka hati,
"Kring kring goes goes…"
"Kring kring goes goes…"
"Putar-putar po-to airando…" (Port Island)"
Bersama mama…"
"Aduh senangnya…"
"Tanoshikatta…" (Menyenangkan)

Sudah hampir dua tahun usiamu…
Tapi masih ngejempol kiri
Dan telunjuk tak tinggal diam
Ikut masuk ke lubang hidung
Sampai jempol jadi kapalan
Dan hidungpun jadi memerah…
Mama jadi marah…
Tapi kamu tetap saja,
Akhirnya yah pasrah saja…:)

Sudah hampir dua tahun usiamu
Tapi masih minum susu dari botol
Kata Dokter sudah tidak boleh
Tapi tetep masa bodo!
Emang enak jadi akachan!

Sudah hampir dua tahun usiamu,
Tapi itu rambut masih belum banyak
Berdiri jabrik spt akachan (Bayi)
Coklat lagi jarang-jarang
Pun sudah pakai baju pink
Sepatupun sudah ngepink
Terdengar bisik2 disamping,
KAKOI!!(Pujian utk anak cowok)
Glek!!

Sudah hampir dua tahun usiamu
Banyak kata yang diingat
Tapi satu yang belum terucap
Mama bilang Banana
Kamu bilang Bababa
Mama eja Ba-na-na
Kamu bilang Ba-na-na
Mama balik bilang Banana
Kamu kembali bilang Bababa…
"Banana…"
"BABABA…"
Hahaha…
Kami jadi tertawa…

Teruntuk Nanami, buah hati kami 9 Oktober nanti tepat 2 th.—
Mama, Port Island, 2 September 2005.

Harta

--Puisi ini dibuat 3 th lalu, diambil dari tumpukan file2 yang berserakan, mudah2an dapat memberikan inspirasi --

---
Kawanku…,
Apa artinya harta bagimu?
Padamu ingin aku bertutur…

Apalah artinya rumah megahmu?
jika mendapati mereka(dengan) gubuk reot.
Apalah artinya hidangan lezatmu?
jika menjumpai mereka(hanya) dgn tulang belulang.
Apalah artinya mobil mewahmu?
jika mendapati mereka(hanya) berjalan kaki

Apalah artinya uang berlimpah,
tabungan menumpuk di bank,
jika mendapati mereka dgn hutang menumpuk.

Harta…,
Kadang membutakan.
Harta…,
Kadang menggiurkan.
Harta…,
Kadang membuat lupa.
Harta…,
Kadang juga sebuah ujian!

Karena "nya",
Orang berlomba-lomba mengumpul
hingga tinggi seperti gunung jika bisa!
hingga mampu membangun istana itu harus!
tanda sebuah kesuksesan
derajat ukur kedigjayaan…

Mereka yang tua renta kini…
Menjadi nomor duamu
Menjadi bukan prioritasmu
Menjadi orang terbuangmu!
Padahal,Dulu…
kita adalah prioritas
Sekarangpun tetap prioritas!.

Karena "Harta",
Segala cara ditempuh
Studipun yang terbaik jika bisa
sebuah investasi menjanjikan di masa depan
Bayangan masa depan indah sudah di mata.

Karena "nya",
Lupa kita!
Bahwa disanaada milik si fakir dan miskina
da juga ridho dan doa ayahbunda
yang menjadikanmu sekarang
dengan segala kecukupan
dengan segala kemapanan.

Lupa kita!
padanya, pada mereka yang telah membesarkan…
dengan segala kekurangannya
Mereka cukupi kitaapapun ingin kita
seperti sang sulapdengan abakedabra…!
semua ada, semua terpenuhi
Hanya untukmu
Hanya untukmu…
dengan segala daya
dengan keringat dan airmata
yang tak pernah kita lihat
yang tak pernah kita dengar keluhnya
yang tak pernah kita sangka!

Jangan…!
Jangan pernah engkau ukur!
Jangan juga pernah engkau hitung-hitung!
Tak akan mampu engkau bayar…
Tak akan jua mampu engkau ganti…
keringatnya yang bercucur
Mukanya yang dulu menahan malu
agar engkau kenyang!
agar engkau tercukupi!
walau dengan istanamu sekalipun!
walau dengan segunung hartamu sekalipun!

Jikalau DIA mau
DIA mampu hanguskan hartamu
hanya dalam sekejap
seperti Tsunami saksi semua umat
seperti Ajal yg tak pernah engkau raba…

Pada mereka yang telah membesarkan
Ingin kuresapi laramu bunda
ingin kuresapi laramu ayah
dalam keluh dan desahmu
dalam himpitan relung hatimu
Ketika masih ada waktu…
Ketika masih ada waktu…

—Fitri.6 Nop 2006, Kobe.

Ada rindu di matanya

"Untuk para ibu yang mungkin pernah mengalami perasaan seperti ini.."

---
"Mama…" teriak gadis kecil bercelana panjang itu manakala melihatku keluar dari kamar bersalin 724 itu.
Gadis kecil berambut pendek itu tak lain adalah putriku yang empat malam belakangan ini berpisah dariku. Sore itu dalam balutan celana panjang merah tua dan kaos lengan panjang serta tas thomasnya berlari untuk memelukku. Kusambut pelukannya dgn rindu yang teramat sangat.

"Nami tadi gimana sekolahnya, suka?", oia hari itu adalah hari pertama dimana dia mulai dititipkan di nursery school untuk 3 hari lamanya hingga aku diperbolehkan pulang ke rumah.
"Tadi Nami nangis di sekolah, Nami ditinggal Papa…", katanya mengadu."Sebentar ya, mama masukkin adek dulu" sambil kudorong masuk keranjang bayi tempat si adek tertidur pulas dan menghabiskan hari2nya di rumah sakit ini.

Di rumah sakit ini, pengunjung yang hanya boleh berjumpa denganku langsung di dalam kamar dan diperbolehkan memegang si bayi adalah hanya suami saja, tidak begitu dengan anak. Anak kecil tidak diperkenankan masuk ke kamar. Anak sulungku dan papanya jadi terpaksa tidak dapat bersua langsung dengan si adek dan hanya puas memandang dari balik kaca.

"Mama, mau liat adek" katanya seraya minta digendong Papa agar dapat melihat si adek dari balik kaca."Lihat tuh adek lagi bobo, kawai ya…", ujar suamiku pada putri sulungku.
Kubiarkan mereka sebentar asik memandang adek dari balik kaca. Tampak bayi-bayi lain juga berjejer disamping adek. Bayi-bayi polos ini tampak begitu lugu dan manis sekali.
Udah yuk, ngobrol di luar aja, ajakku pada suamiku. Maklum suara gadis kecilku ini membahana sampai ke ujung lorong kamar bersalin. Hehehe.

"Tadi di sekolah kenapa nangis? kan banyak teman di sekolah…" lanjutku pada Nanami. "Iya, Nami nangisss…"
Ahhh terdengar sedih sekali perkataannya. Apa yah perasaannya saat itu ditinggal sendirian? Saya bisa merasakannya. Sambil berjalan ke ruang tunggu kami saling curhat.
"Besok ngga boleh nangis lagi yah, kan sorenya dijemput Papa lagi, terus ketemu mama di rumah sakit""Iya…, ngga boleh nangis", katanya mengulang kata-kataku."Tadi di sekolah belajar apa?"Dengan sigap jari-jarinya yang mungil langsung mengeluarkan kumpulan kertas bergambar dari dalam tas thomasnya. "Belajar warna…""Coba mama liat, wahhh bagus yah…" kataku mengomentari tumpahan warna yang hilir mudik menerobos garis. Hehehe…"Tadi di sekolah, kalau pipis bilang ngga?"Bilang, osikko osikko sensei…" sambil kedua kakinya diperagakan spt menahan pipis. Hihihi."wahh pinter dong kakak Nami""Onichan berak di celana, ihh malu…" ceritanya ttg seseorang teman di sekolah."Ngga boleh berak celana, beraknya di toilet dong" katanya menegaskan. Kata-kata yang sering kali aku ucapkan padanya."Toiletnya kecill bener…" tambahnya lagi. Sudah lupa dia akan kesedihannya tadi. Dia asik saja berceloteh padaku.

"Ehhh, mama punya yogurt, ini buat kakak Nami", sodorku padanya yang disambut dgn senang sekali melihat cemilan kesukaannya. Kusisihkan utknya saat makan siang tadi. "Wahh yogurt.., ayo buka Ma…""Dibeliin yogurt ngga sama Papa?" seraya melirik si Papa yang senyam senyum sendiri."Ngga…""Dibacain buku ngga sama Papa?" checkku lagi."Ngga…"Aku tanya pada suamiku apakah dia suka minta dibacakan buku selama aku di rumah sakit. "Dia ngga pernah minta dibacakan buku" kata suamiku.

Ohh gitu. Hal yang berbeda manakala ia bersamaku. Bisa lima buku dalam satu waktu minta ia bacakan. Mungkin dia kelelahan dgn ritme yg berbeda belakangan ini. Kulihat dirinya asik menghabisi yogurt pemberianku. "Besok bawa buku KAKAK NISAnya yah kesini, nanti mama bacain""Papa, buku kakak nisanya mana?" katanya pada suamiku"Yah di rumah, besok kita bawa ya…"

Tiba-tiba dia menghampiriku dan menyenderkan kepalanya di pahaku. Aku tersentak kaget. Kubelai rambutnya yang tipis kecoklatan itu. Tak terasa mata ini mulai membasah. Ahh, ternyata anak ini merindukanku sangat. Rindu yang sama kurasakan. Kulirik suamiku di kursi didepanku, ada merah di matanya. Ahhh baru saja empat hari kami sudah saling merindu seperti ini. Kupeluk dirinya sambil berkata aku tak akan lama lagi pulang.
"Sekarang malam hari dia suka ngigau manggil mamanya", kata suamiku.
Kontan air mata ini berjatuhan. Ahhh Kakak Nami maafin mama ya…
"Yah udah, udah sore, mama mau mau kasih adek minum susu dulu ya…""Besok kakak Nami datang lagi yah…jangan lupa bawa Kakak Nisanya", tambahku.Dia menggeleng. Dia tak ingin pulang. "Iyah besok kita datang lagi" ujar suamiku padanya.
"Byee" kataku"Bye Mama, sampai jumpa ya…" katanya mengakhiri.

Kini aku bukanlah ibu utk Putri sulungku sajaTapi aku juga ibu bagi putra sulungku.Aku juga bukanlah ibu bagi anak lelakikuTapi aku jugalah ibu bagi anak perempuankuKini aku harus bisa berlaku adil pada keduanyaBagi mereka yang teramat aku sayangi…

--Di suatu senin sore hari, 2 Oktober 2006, Fitri.

Sekelumit Kehidupan

--Tulisan ini saya penakan sekitar 3 th yang lalu, diambil dari kumpulan coretan saya yang berserakan---

Seringkah kita merasa kecewa, putus asa, merasa gagal dalam hidup ini, dan berfikir Allah tidak berlaku adil krn tidak pernah mengabulkan doa hambanya dan merasa susaaahh saja? astaghfirullah al adzim, mudah2an kita semua dijadikanNya manusia yang patut dan sekali lagi patut berterimakasih atas semua rahmat yang telah diberikanNya, atas semua ujian atau cobaan yang diujikanNya pada hambaNya, yang tak lain mungkin dapat meningkatkan keimanan kita padaNya krn sabar dan berserah diri (pasrah) atas ketetapan tsb, serta dapat mengambil hikmah atas semua ujian dan cobaan tsb.

Ketika suatu hari saya sedang bercakap-cakap dgn suami tercinta mengenai hidup dan kehidupan ini, mengenai berbagai permasalahan yang menghimpit misalnya, suami seringkali berkata begini "Allah itu maha tahu hamba-hambanya, kapan waktu yang terbaik rahmatNya dan doa2 hambaNya itu terkabulkan". Suami saya menyontohkan seseorang yang tengah belajar nun jauh di negeri orang, dgn beasiswa yang terbilang cukup besar, tapi ia tidak dapat menabung sedikitpun karena orang tsb memberikan sebagian besar uangnya utk orangtua dan adiknya yang masih sekolah sehingga ia tidak dapat menabung dan terpaksa berhemat karenanya. Sungguh jika kita mau menangkap hikmahNya, mungkin kedatanganNya utk belajar nun jauh di negeri orang, selain utk menimba ilmu bagi dirinya sendiri, juga menjadi jalan keluar yang diberikan Allah utknya krn dgn beasiswa yang cukup besar itu Ia dapat membantu keluarganya di tanah air. Subhanallah sungguh Allah maha tahu bukan kesulitan hamba-hambaNya dan bagaimana menyelesaikannya tanpa kadang kita sadari Allah telah memberikan jalan keluarnya itu sendiri.

Pernah suatu kali saya mengadu pada suami tercinta ttg si fulan yang bertanya berapa banyak sudah tabungan kami mungkin karena dia melihat kami sudah cukup lama bermukim di negeri sakura ini? Duhai teman, sungguh saya paling tidak suka jika engkau tanyai hal ini. Buat saya pribadi, kecukupan, kenikmatan, kesuksesan serta kebahagiaan tidaklah diukur dari berapa banyak sawah yang sudah kita miliki kalau mau ambil bahasanya si Ngkoh Motomachi hehehe. Bukan, bukan itu teman. Jika pengukurnya adalah materi, maka kami tidaklah punya apa-apa. Si fulan menambahkan jika kami tidak memiliki apa-apa, maka bisa jadi kami kurang berhemat. Saya hanya tersenyum. Bisu. Miris mendengarnya. Ahhh, mungkin ia benar, mungkin saya tdk dapat berhemat. Hemat? tergelitik sekali ingin tahu apa sebenarnya harfiah dari arti kata itu. Menurut saya hemat mempunyai pengertian arti yang berbeda-beda dalam sudut persepsi. Hemat menurut siapa? hemat menurut saya tentu berbeda dgn hematnya presiden bukan? Hemat si fulan yg bertanya pd saya tentu berbeda dgn hemat saya. Yang terpenting adalah menempatkan segala sesuatunya pada sebagaimana mestinya, tidak berlebih-lebihan dan tidak juga sampai menyiksa diri.

Lagi-lagi buat saya, anak yang sehat, suami yang mudah2an lancar dalam studinya, kesehatan yang senantiasa dilimpahkanNya pada kami sekeluarga, kecukupan dan banyak hal lainnya itulah bukti kasih sayangNya. Suami seringkali berkata setiap orang punya masalahnya masing2, terkadang orang lain tidak mengetahui dan tidak perlu tahu ttg hal tsb. Yang terpenting bagaimana kita menjalaninya, menjadi orang yang bersyukur atau tidak. Memberi anak asupan gizi yang baik juga adalah investasi masa depan baginya, dapat menyekolahkan kamu sampai sekarang ini adalah kebahagiaan yang tak pernah saya sesali, katanya. Saya tersentuh.

Target itu sesuatu hal yang penting, tapi jangan sampai kita menjadi buta olehnya, karena jika ternyata target tidak sesuai dgn harapan kita akan merasa sakit hati, kecewa, yang lebih parah bisa membawa keterpurukan iman padaNya, karena bisa jadi kita telah diperbudak olehnya, merasa diri mampu atas segala hal dan menjadi lupa bahwa semua hal yang telah kita lakukan pada dasarnya ada pemiliknya, yang berhak atas segala sesuatunya. Jika Ia berkehendak, harta yang telah kita kumpulkan segunungpun akan lenyap seketika, seperti halnya bencana yang diujikan Allah di Jogja dan di Aceh tercinta yang melenyapkan segala sesuatunya tanpa sisa. Sungguh Allah maha besar, mahu tahu kesulitan hamba-hambaNya, dan jika Ia berkenan Iapun akan memberikan rizkiNya tanpa kita sadari, tanpa kita sangka-sangka, datang dari berbagai arah yang tak kita dapat duga. Percaya deh. Bahwa Allah itu Maha Adil.
Jadi Yukk kita mulai berfikir utk tidak melihat terlalu banyak pada kelebihan orang lain, tapi lebih pada memotensikan diri sendiri dan mulailah berfikir baik sama Allah, berhusnuzon padaNya. Dan jika Allah belum mengabulkan doa kita, InshaAllah Ia paling tahu waktu terbaik bagi hambaNya.

–Tulisan ini lebih utk mengingatkan diri sendiri—
Fitri.

Bahasa Cinta Anak

Seringkali kita sebagai ibu berfikir telah menjadi ibu yang baik bagi anak2 kita setidaknya berusaha menjadi sosok ibu yang baik baginya. Seringkali kita merasa kita sudah berlaku adil pada putra-putri kita tetapi kenyataannya sering tidak demikian dalam kacamata anak. Ternyata ada 5 kategori bahasa cinta yang dimiliki seorang anak. Dan diantara 5 bahasa cinta itu ada satu bahasa cinta yang paling menonjol yang melekat pada anak tersebut. Saya juga baru tahu itu saat berkonsultasi dgn psikolog beberapa waktu lalu. Yuk kita lihat sama-sama dan coba menelaah satu persatu mana yang paling dominan pada anak kita.

1. Pelukan, Belaian, Ciuman
Apakah anak kita suka memeluk dan menerima pelukan? jika iya dan sering sering dilakukan berarti itulah bahasa cintanya. Anakku yang kedua paling suka menerima pelukan, belaian dan ciuman dariku, seperti juga dia melakukan hal yang sama untukku.

2. Waktu yang optimal
Tipe anak ini sukanya melakukan aktivitas hanya berdua saja. Apakah kita selaku orangtua sering melakukan aktivitas berdua? kalau anaknya baru satu rasanya tidak susah yah... Untuk aku yang punya 2 orang anak-- melakukan aktivitas berdua saja dgn si kakak rasanya hampir tak pernah terwujud, krn si adek selalu saja ingin tahu dan ingin nimbrung walaupun sudah diberikan kegiatan lain.

3. Pujian dan sanjungan
Apakah kita sering melakukan pujian dan sanjungan atas apa yang telah dihasilkan dan dicapai anak kita? jika belum seringkanlah karena itu akan menumbuhkan rasa percaya dirinya. Apakah anak kita tipe yang senang diberi sanjungan atau pujian? jika ya, maka berilah ia pujian atas apa yang dihasilkannya.

4. Pelayanan
Apakah anak kita tipe yang suka dilayani dan melayani? Anak tipe seperti ini maunya dilayani namun demikian dia juga suka melayani. Jadi perhatikan apakah anak kita misalnya suka mengambilkan minum saat kita pulang dari kantor? dan apakah ia suka memberi hadiah pada kita? (misalnya mengirim surat, membelikan hadiah2 kecil jepit rambut dsb). Anak dgn tipe ini juga sangat suka diperlakukan hal yang serupa. Nah, kalau anak kita masuk dalam kategori ini, hayo benahi diri kita sebagai orangtua apakah telah cukup memberikan pelayanan yang sama padanya?. Nanami paling suka menggambar dan setelah menggambar dia menulis di pojok atas, isinya "untuk mama i love you, dari nanami".

5. Penghargaan.
Apakah anak kita tipe yang suka melakukan sesuatu dan kemudian harus ada penghargaannya? Anak dgn tipe ini mungkin hanya mau melakukan sesuatu jika ada reward-nya. Apakah kita telah cukup memberikan rewards atas kerja kerasnya? boleh jadi tidak kan?

Dari 5 uraian tsb diatas, ada satu yang paling dominan dalam diri seorang anak. Saya pun baru tersadar selama ini bahwa saya sering kali menganggap remeh waktu berdua dengan anak saya yang pertama, bahwa saya mengira aktivitas bersama-sama adalah jauh lebih baik. Pantas saja dia sering meminta saya melakukan aktivitas berdua--mewarnai berdua, main PASS-- dan terkadang hampir tak pernah sempurna karena si kakak merasa privasinya terganggu. Boleh jadi, dia menuntut waktu yang lebih dgn saya. Sekarang saya berusaha memperbaikinya. Jika dia meminta semisal mewarnai bersama, saya katakan nanti yah setelah adek tidur, atau ketika adeknya bermain dgn papanya.

Mudah2an informasi ini bermanfaat untuk yang lainnya. Menurut saya tidak salah sesekali kita membawa anak2 kita ke psikolog bukan hanya sekedar ingin mengetahui tes IQ saja tapi lebih dari itu kita selaku orangtua bisa tahu sudah sejauh mana keberhasilan yang telah dicapainya dari berbagai sisi, apakah kemampuan verbalnya sejalan beriringan dengan kemampuan performancenya?. Kita bisa berdialog mengenai hal-hal yang kurang dan bagaimana menumbuhkan yang kurang tersebut menjadi lebih baik lagi. Tetapi sebelum ke psikolog, kita harus membuka diri kita seluas-luasnya, tdk ada yang ditutupi dan mau menerima segala masukan, dengan demikian kita akan dapat memperoleh manfaat yang besar dalam konsultasi tersebut.
Dan terakhir jangan pernah takut akan hasil apapun karena kalaupun hasilnya tidak sesuai yang kita inginkan, minimal kita tahu sekarang dan mengetahui bagaimana cara menstimulasinya.

Ini hanya curahan saya saja atau resume dari pengalaman saya pribadi bertemu psikolog anak (lirik ibu psikolog yang cantik dan baik RosDiana Tarigan), jika ada yang salah tolong ditambahkan yah... karena sesungguhnya mendidik anak itu tidak ada metode yang paling benar, karena yang paling pas dan cocok adalah yang punya anak itu sendiri. Namun setidaknya kita bisa belajar dan menjadi sosok ibu yang bijaksana bagi putra putri kita nantinya. Karenanya yuk kita sama-sama mewujudkan bahasa cinta belahan jiwa kita, shg kelak ia merasa menjadi sosok yang merasa dicintai, dikasihi dan dihargai, amin.

Salam manis dari Gambang,
Fitri

Jumat, 26 Juni 2009

Kereta Kehidupan...

Seperti halnya kereta dengan gerbong-gerbongnya yang panjang, kehidupanku pun demikian. Diantara gerbong-gerbong hidupku mungkin ada kamu--my beloved family, my dearest friend-- yang membuat kereta kehidupan-ku menjadi penuh arti dan sesak dengan canda dan tawa. Untuk Cintaku, aku akan selalu menemanimu dan terus mendukungmu sampai kapanpun, dan untuk keluargaku nun jauh di Jakarta dan di lampung one day we will meet again i promise, dan untuk sahabat-sahabatku tetaplah jadi temanku yang selalu menemaniku anytime anywhere-- special to my good friend mbak Ern.
Kereta kehidupan akan bertutur tentang diriku, dan kehidupanku disini, di negeri yang masih asing bagiku bersama suami dan anak-anakku.
Dan untuk teman-teman dunia mayaku yang baru aku kenal, salam kenal ya... mudah-mudahan kita bisa menjadi teman juga ya...

Salam,
Fitri.