Sepatah Kata

SEPATAH KATA SEMANIS KURMA...

Seperti halnya kereta dengan gerbong-gerbongnya yang panjang, kehidupanku pun demikian. Diantara gerbong-gerbong hidupku mungkin ada kamu--my beloved family, my dearest friend yang membuat kereta kehidupan-ku menjadi penuh arti dan sesak dengan canda dan tawa. Untuk Cintaku, aku akan selalu menemanimu dan terus mendukungmu sampai kapanpun, sampai bila-bila, dan untuk keluargaku nun jauh di Indonesia (Jakarta dan di Lampung) one day we will meet again I promise, dan untuk sahabat-sahabatku tetaplah jadi temanku yang selalu menemaniku anytime anywhere.

Kereta kehidupan akan bertutur tentang diriku, dan kehidupanku disini, di negara yang masih baru bagiku Malaysia, di sebuah negeri yang terkenal dengan pantai timurnya, dengan hutan tropikalnya yang cantik, serta laut-lautnya yang tetap dibina semula jadi (natural), yah negeri Pahang Darul Makmur dengan bandar (ibukota) Kuantan, bersama suami dan anak-anakku tercinta.

Dan untuk teman-teman dunia mayaku yang baru aku kenal, salam kenal ya... mudah-mudahan kita bisa menjadi teman juga ya... *_^


Daisypath Anniversary tickers

Selasa, 01 Maret 2011

Ichiro: Ku tak lagi ngotot!

Ketika mengambil anakku yang no.2 dari tadikanya. Gurunya berkata kepada saya bahwa jagoanku ini bisa lasak (nakal) juga di sekolah. Tapi kalau di depan mamanya, manis sekali tak nakal pun. Hahaha aku tertawa mendengar penuturan yang jujur dari cikgunya. Saya sudah menduga itu. Dia memang tipikal anak yang mudah bergaul dan senang bermain. Terkadang saat hendak pergi sekolah, tak lupa membawa serta mainan mobil-mobilan miliknya Hehehe. Suamiku mengingatinya untuk mengeluarkan mobil2an itu saat waktu istirahat saja.


Semenjak kami masukkan ke sekolah taman kanak-kanak, nampak sekali perbedaannya, kesiapannya untuk belajar tumbuh dari dirinya sendiri. Tanpa paksaan dariku. Lihatlah sudah lumayan juga hapalan2nya sekarang, ada bacaan al-fatihah dan doa makan yang sudah sangat dihapalnya. Suatu ketika saat bermain dengan temannya di rumah, dan saat itu hendak minum susu, kawan karibnya itu mengingatinya untuk membaca doa terlebih dulu. Dengan percaya dirinya dia pun melantunkan surat al-fatihah dari bibirnya yang mungil. Kontan saya jadi tertawa dibuatnya.

Bersama ketiga anakku kini aku rasakan diriku menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam menyikapi pertumbuhan anak-anak. Mungkin saya belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu dalam pengajaran kepada anak saya yang pertama. Maklumlah anak pertama, dan ibu baru. Kini saya lebih rileks dan berusaha untuk tidak memaksanya. Yah untuk anak saya yang nomor 2 ini keinginan belajarnya tumbuh dari dirinya sendiri, kepintarannya bertambah seiring dengan kematangan usianya. Saya pikir seorang ibu berbuat salah itu manusiawi, tapi kita juga sebagai ibu perlu membuka diri untuk belajar juga dari mereka. Yang salah tidak perlu lagi diulang, yang baik patut dipertahankan. Dari pengalaman dengan anak pertama kami, mengajarkannya membaca, menulis dan berhitung, belajar mengaji serta melatihnya untuk melaksanakan fardhu ain kepada buah hati kita menjadikan kita mengetahui dengan betul kekurangan anak kita sendiri. Semuanya dikerjakan di dalam rumah, sedikit demi sedikit asalkan dilakukan dengan konsisten. Yakin deh bahwa seorang ibu  pasti bisa mengajarkan anaknya sendiri. Justru pengalaman  itu  membantu saya menerapkan nilai-nilai yang baik dari sebuah keberhasilan pencapaian dan meninggalkan nilai-nilai yang buruk dari suatu kegagalan pengalaman.

Layaknya keinginan para ibu pada umumnya, keinginan kamipun sama, menginginkan melahirkan anak-anak yang sehat secara psikis dan fisik dan semoga mereka menjadi pribadi yang dapat berdiri di atas kakinya sendiri.
---
Hanya sekedar coretan di pagi hari.

---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar