Sepatah Kata

SEPATAH KATA SEMANIS KURMA...

Seperti halnya kereta dengan gerbong-gerbongnya yang panjang, kehidupanku pun demikian. Diantara gerbong-gerbong hidupku mungkin ada kamu--my beloved family, my dearest friend yang membuat kereta kehidupan-ku menjadi penuh arti dan sesak dengan canda dan tawa. Untuk Cintaku, aku akan selalu menemanimu dan terus mendukungmu sampai kapanpun, sampai bila-bila, dan untuk keluargaku nun jauh di Indonesia (Jakarta dan di Lampung) one day we will meet again I promise, dan untuk sahabat-sahabatku tetaplah jadi temanku yang selalu menemaniku anytime anywhere.

Kereta kehidupan akan bertutur tentang diriku, dan kehidupanku disini, di negara yang masih baru bagiku Malaysia, di sebuah negeri yang terkenal dengan pantai timurnya, dengan hutan tropikalnya yang cantik, serta laut-lautnya yang tetap dibina semula jadi (natural), yah negeri Pahang Darul Makmur dengan bandar (ibukota) Kuantan, bersama suami dan anak-anakku tercinta.

Dan untuk teman-teman dunia mayaku yang baru aku kenal, salam kenal ya... mudah-mudahan kita bisa menjadi teman juga ya... *_^


Daisypath Anniversary tickers

Rabu, 23 Februari 2011

Awak lebih tua ke?

Seorang kawan keturunan cina dengan kacamatanya yang selalu bertanggai di hidungnya yang mungil selalu datang di setiap waktu istirahat sekolah. Selalunya dia mengambil kursi yang sama dan tempat yang sama, dan aku kebetulan juga selalu duduk disampingnya, di tempat favoritnya anakku. Percakapan mengalir begitu saja karena kebetulan anak-anak kami satu kelas, nama anaknya Chong. Anak perempuan bertubuh kecil serupa dengan Nanami, sulungku. Mulai dari jadwal peperiksaan (ujian sekolah) sampai kepada hal-hal pribadi menjadi perbualan kami.
"Suaminya nampak usia lebih muda ya dari awak", selorohnya.
"Oh eh, suami saya?" pura-pura ngga ngeh.
"Iya, umur awak lebih muda ke dari suami?" Aku jadi senyum kegelian mendengar pertanyaannya.
"Iyalah, dia lebih tua dari saya"
"Nampak awak lebih tua dari dia" Glekk! Hehehe please dong bu ngga usah diperjelas kayak gitu. Kalau suamiku sampai dengar bisa ke-GR-an nih...
"Biasalah bu perempuan kan lebih cepat tua dari suami, sukanya marah-marah apalagi pasal anak, kan...?" Eiiitts, ngeles euuy, lagi-lagi anak dijadikan alasan. Kekekeke....

Bukan sekali ini aja aku dengar tentang ini. Jiran di depan rumahpun berkata begitu.
"Fitri, tau tak, banyak yang cakap tentang suami awak tuh..."
"Apa katanya kak?"
"Katanya suami kamu handsome..."
"Hah, ibu-ibu cakap macam tuh ke?"Dasar ibu-ibu senangnya gosip saja,
"Terus apalagi kak?"
"Katanya suami fitri tuh sabar ya tak kisah nunggu lama kat kereta..." Hehehe kalau yang ini mah kewajiban dong bu...masak dia tega mau ninggalin aku di sekolah..
"Makanya Fitri, fashion sikit lah..., jangan macam orangtua aja..., salah-salah nanti suami diambil orang" Hehehe seperti itukah pandangannya tentang aku, jadul, kuper, old fashion, WAKKK!!!
"Ya lah kak, nanti saya perhatikan, makasih ya banyak-banyak dah perhatian sama aku..."
---
Huhuhu aku sudah nampak setua itukah? Ihhh ibu-ibu ini rese amat. Tapi mungkin ada benarnya juga. Mungkin karena badanku yang sudah mulai menggemuk ini yang membuatku jadi nampak tua. Lihat udah ada garis di mataku, dan ada flek lagi. Aku ngoceh sendiri di depan cermin. Ya lah mungkin maksud akak itu baik supaya aku tak nampak lebih tua dari usiaku yang sebenarnya. Wuaahhhh mau gimana lagi, seperti inilah aku sekarang. Huhuhu.

Kembali aku melirik ke arah cermin. Hmmm tapi aku masih cantik kok....air laut asin sendiri, ya lah siapa lagi yang mau menghargai diri sendiri kalau bukan yang punya diri ini. Masih banyak urusan lain yang lebih bermanfaat dari sekedar kecantikan luar.  Bukankah semakin hari kita akan semakin tua. Suamiku pernah bilang kalau sudah tua, dan jelek yang tinggal hanya kasih sayang diantara kita.

Mudah-mudahan suamiku dapat melihatnya dan mencintaiku apa adanya.

---

Senin, 21 Februari 2011

Aku ingin pulang...

Gundah gulana rasanya mendengar mamaku nun jauh di seberang lautan kini tengah sakit. Jantungnya membengkak karena keracunan obat. Obat yang selama ini dijual bebas dan beliau kira dapat meringankan sakit yang tak tertahan di bagian sendi-sendi lututnya. Beliau memang seperti itu selalu memakan obat2 yg dijual bebas tanpa resep dokter. Kadang beliau sudah laksana dokter itu sendiri. Obat yang tanpa resep itu dimakannya secara berkelanjutan selama 1 tahun terakhir. Mungkin karena dirasakan olehnya perasaan yang enak dan nyeri yang hilang membuatnya meneruskan untuk mengkonsumsi obat2 itu. Tapi ternyata obat-obat itulah yang membuatnya menjadi sakit kini, jantungnya membengkak. Usianya kini menjejaki 63 tahun sudah.

Aku yang berada nun jauh disini merasakan diri gagal sebagai anak. Aku selalu menganggap beliau- mamaku seorang yang superwoman, tidak banyak mengeluh, dan sangat mengeri anak-anaknya. Semua hal selalu dikerjakan sendiri bahkan untuk urusan memasang lampu sekalipun. Diapun tidak banyak mengeluh walaupun sesungguhnya beliau sedang sakit. Beberapa hari menjelang sakitnya itu, aku sering mengiriminya sms menanyakan kabarnya, sehat kah, bagaimana dengan kakinya, dsb, saat itu beliau menjawab bahwa dirinya baik2 saja, sehat-sehat saja dan lagi senang senang. Mengapa dia harus membohongi aku anaknya, tapi aku paham sifat mamaku sendiri, beliau memang tidak ingin anak-anaknya menjadi risau karenanya.

Aku bersyukur kakakku dan adikku ada di dekat mamaku saat ini. Setidaknya kekhawatiranku sedikit berkurang. Saat ini aku ingin sekali pulang, aku ingin menengokinya, aku ingin berada disisinya saat ini, dan memasakkan untuknya. Ahhhh.......
----

Kamis, 17 Februari 2011

Kejarlah Akherat Dunia akan mengikuti

Manusia berlomba-lomba mengejar akan dunia, seakan takut dunia akan meninggalkannya. Manusia berkejar-kejaran mengais kenikmatan dunia seakan takut dia tak kan menikmati itu semua. Yah, itulah gambaran dunia saat ini. Dunia tempat saya berpijak hari ini. Kita seringkali dialphakan oleh kenikmatan akherat karena asyik mengejar dunia. Di lubuk hati yang paling dalam, mungkin kita akan berkata kenyataan kehidupan yang serba menuntut kepada kebendaan itulah yang membuat kita seperti kalang kabut dalam mencari rizki Allah di muka bumi ini. Seperti tak kenal waktu lagi, malam menjadi siang, siang pun menjadi malam, semuanya demi kebendaan itu, apalagi jika bukan karena harta.

Harta memang membuat lupa, lupalah kita akan kewajiban menunaikan fardhu ain, atau mengulur-ulur waktu sholat saat jelas-jelas masuk waktu sholat karena mungkin janji temu dengan klien itu lebih penting, tak tergerak pula pribadi-pribadi yang diberi jiwa olehNya untuk menambah tabungan akherat dengan sholat-sholat sunat lainnya (Astagfirullah al adzim). Padahal, waktu kita banyak untuk mengerjakan itu semua. Kita malah lebih suka terkikik-kikik menyaksikan acara wipeout di saat-saat kita boleh menunaikan sholat dhuha. Lupa juga kita akan kitab suci Al-quran yang sememangnya menjadi pegangan hidup kita, kita biarkan Al-quran nur karim itu tergeletak dalam rak buku diselimuti debu. Tak bergeming juga kita untuk menghadiri majlis-majlis pengajian yang dapat menentramkan diri dengan alasan sibuk dengan si kecil. Lupa juga kita akan kewajiban kita untuk berzakat yang sememangnya seorang muslim dan muslimat tunaikan. Sehingga mungkin dengan cara lain Allah akan mengambilnya kembali dari kita. Pusingnya memikirkan dunia, tambah lagi lupa kita untuk mendermakan sedikit milik kita kepada saudara-saudara kita yang memerlukan bantuan. Astagfirullah Al-Adzim.

Ahhh, banyak sudah kenikmatan-kenikmatan akherat yang sengaja kita lalaikan. Seakan-akan kita akan hidup 100 tahun lagi. Seakan-akan urusan akherat menjadi nomor kedua kita. Padahal, kita menginginkan Allah SWT mencabut nyawa kita dalam keadaan terbaik, dengan keimanan terbaik, dengan keislaman terbaik, sehingga syurga pun menjadi cita-cita dari akhir perjalanan hidup ini.

Sebagaimana Surat At-Taubah:122 : Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu`min itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Ayat diatas bukan langsung serta merta saya ambil dari Al-Quran, melainkan karena di pagi ini saya baru saja disentil dalam siraman rohani di salah satu stesen TV (acaranya namanya sehiris peria secawan madu).

Makna yang terkandung dari ayat itu mengajak kita untuk memperdalam pengetahuan agama kita, karena itulah bekal kita di akherat. Yakinlah jika kita mengedepankan akherat, insyaallah dunia akan mengikuti, sukses dalam kehidupan pun akan diraih.

"Ya Allah Ya Rabb, senantiasa rahmatilah aku dan keluargaku dan keduaorangtuaku, serta saudara-saudaraku semuslim, " Amin YRA.
---
Sekedar untuk mengingati diri sendiri saja.




 

Senin, 14 Februari 2011

Kau selalu di hatiku...

Anata, zutto issyo ni itai....

My wedding anniversary

Pernikahan ku dengan pujaan hatiku yang kini telah menjadi ayah bagi ketiga anak-anak kami telah mencecah angka delapan rupanya. Sampai-sampai aku tak menyadarinya. Padahal hari kedelapan dibulan dua itu selalu kutunggu-tunggu. Ahhh akhirnya sampai juga perjalanan cinta kami hingga detik ini, alhamdulillah hanya kepada Allah yang memberikan cinta dan mengekalkan kasih sayang di hati kami berdua. Semoga Allah Swt tetap mencurahkan cinta dan kasih sayang itu hingga ke penghujung nyawa. Amin YRA.

Selama satu tahun ini begitu banyak ujian dan hal-hal lain yang datang silih berganti dan bertubi-tubi menghampiru hingga membawa ujian kepada perjalanan mahligai perkawinan kami. Jengkel, kesal, marah, hingga cemburu pun pernah bersemayam di dalam bingkai hatiku. Aku tak mau takabur, tapi aku senantiasa berdoa semoga cinta kami akan terus bersemi..

Siapa bilang bahwa kita akan memilikinya utuh? tidak, dia mempunyai dirinya sendiri dengan masa lalunya, sikap-sikapnya dan pembawaannya yang melekat padanya sebagai suatu entiti dirinya. Kita tidak dapat mengubahnya seperti yang kita mau. Kita hanya boleh memahaminya sebagai satu paket dalam dirinya.  Yah, saya masih lagi belajar untuk memahami dirinya lebih dalam lagi, menjiwai pribadinya lebih dalam lagi, mengenalnya lebih dalam lagi, dan menerimanya apa adanya dengan segala kekurangan dan dengan segala kelebihannya.

Untuk Cintaku, belajarlah untuk memahamiku karena aku ada untuk dirimu...selalu, insyaallah.
____

Minggu, 23 Januari 2011

Hohoho Adul...

Adul sekarang udah 10 bulan jalan 4 hari. Ihhh udah gede ternyata. Cepat sekali waktu berlalu. Rasanya baru kemarin aku timang-timang...sekarang udah mau jalan. Giginya dah 7 buah, 4 diatas, 3 dibawah berbaris di depan. Tambah lucu jadinya. Paling seneng tendang bola dan banting2 apa aja yang bisa dibanting. Kalau senyum manis sekali, kalau tertawa lucu sekali. Udah pintar tepuk tangan, sekarang tambah lagi dah pintar bye bye. Kalau mau makan bilang mam mam. Apalagi kalau papanya bilang tak boleh, Adul akan geleng-geleng kepalanya. Jadi mirip orang India dengan goyangan di kepalanya. Hehehe...Copy-paste deh pokoknya!!

Cepat besar ya Dul...
---
Catatan mama ttgmu .

Jumat, 21 Januari 2011

Digigit Amirul Hakim!

Hari itu hari Jum`at. Di hari itu sajalah suamiku biasanya membawa kereta (mobil) sendiri ke pejabat (kantor). Hari itu dia (suamiku) menyempatkan diri untuk mengantar Ichiro ke tadika (tk).  Ichiro nampak senang sekali manakala tahu siapa yang akan mengantarnya pagi itu.
Selepas mengantarkan Ichiro dari tadika, suamiku kembali lagi ke rumah untuk sarapan pagi. Sambil makan suamiku menyampaikan bahwa Ichiro sudah punya kawan sekarang. Hatiku pun senang mendengarnya. Seingatku dia hanya punya seorang kawan yang sering disebut-sebut dalam percakapan kami sehari-sehari, siapa lagi kalau bukan anak dari sahabatku, Farhan. Sebenarnya Ichiro anak yang mudah bergaul, cuma agak cuek sedikit.
---
Senja hari ketika suamiku balik dari pejabat, dia memanggil Ichiro. Ichiro tengah asyik memandang ke layar televisi.
"Ichiro, sini dulu, dekat dulu sama papa, cerita dulu sih siapa temannya yang manggil-manggil Ichiro tadi pagi di sekolah?" tanya suamiku pada jagoanku yang telah menginjak 4 th itu.
"Teman chiyo lah pa..."
"Iya siapa temannya? tahu ngga namanya?" Penasaran rupanya suamiku.
"Tahu..." katanya sok tahu.
"Namanya itu Amirul Hakim!" ucapnya setengah cadel.
"Oh, Amirul Hakim..."
Aku yang duduk di sebelah jadi teringin juga bertanya.
"Amirul Hakim tu macam mana orangnya? besar ke kecil?"
"Kecil macam iyo ma" katanya . Hihihi anakku mendriskripsikan dirinya kecil toh!.
"Oh, gitu..." kataku.
"Tadi kenapa lari-lari di dalam kelas, emang ngga dimarahin sama cikgu?" tanya papanya.
"Tak lah..." ucapnya penuh percaya diri.
"Itu loh Pah, biasanya cikgunya lagi ngajarin IQRA sama murid-murid lain dulu, makanya dia bisa lari kesana-kemari..." aku mencoba menjelaskan situasi yang biasa terjadi di tadikanya.
"Itu yang ngantri-ngantri tuh sedang apa?" tanya suamiku lagi. Rupanya dia melihat sebagian murid mengantri dalam barisan.
"Yah itu murid-murid yang ngantri untuk baca Iqra" kataku. Nah yang belum dapat giliran itu yang suka ribut sendiri. Termasuk anakku, hehehe.
"Padahal cikgunya banyak loh, pada ngapain yah? Pertanyaan retorika yang tak perlu dijawab.

Kembali lagi kami ke Ichiro.
"Terus kawannya siapa lagi dong selain Amirul Hakim?" tanyaku ingin tahu.
"Ngga tahu namanya..."
"Gimana sih Ichiro ni punya teman kok ngga tahu namanya," celotehku.
"Tadi..., chiro digigit sama Amirul Hakim!" celotehnya tiba-tiba. Hah??
"Apanya yang digigit?" Kaget aku.
"Tangan chiro ni..." sambil menunjukkan telunjuk kanannya ke aku.
"Sakit ngga?"
"Sakit, tadi chiro nangis di sekolah..." Hahh lagi dehh. Kok ngga bilang dari tadi sih Nak...
"Terus Amirul Hakimnya dimarahin dong sama cikgu?" tanyaku penasaran.
"Ngga...,"
"Kok ngga?"
"Chiro ngga bilang..."
"Emang cikgunya kemana?"
"Tak ada cikgu pun..., mah, mah.., soalnya mah, chiro ni..., ngga kasih tahu lah sama cikgu..." Celotehnya lucu. Hihihi baiknya anakku. Cuma heran aja kemana semua cikgu sampai anakku nangis aja ngga denger. Issh.
Suamiku pun jadi tertawa mendengarnya. Aku jadi sewot sendiri sama suamiku. Hahaha.
"Pada ngegosip kali cikgunya..." canda suamiku.
"Eh, udah dicuci belum jarinya yang digigit tu...kan bau..." candaku sambil mengernyitkan hidungku tanda bau.
"OHH, iya lah...bau..." katanya sambil menyiumi jarinya sendiri. Hihihi itu mah karena kamu udah kebanyakan main dari tadi siang, yah jelaslah bau!! 
"Chiro mau cuci tangan dulu..." celotehnya sambil berlari ke tandas (wc).

Hahaha kami berdua (aku dan suami) jadi terkikik-kikik dibuatnya senja hari itu. Entah kejutan apalagi yang dibuatnya esok. Mudah-mudahan kejutan yang baik. I Hope so.

---

Rabu, 19 Januari 2011

be be jadi BIBI !

Seperti biasa, satu rutinitas baru menambahi deretan pekerjaanku sebagai suri rumah (ibu rt) apalagi kalau bukan menjemput Ichiro pulang dari sekolah di Tadika Al-Banna dekat rumah. Sebenarnya usianya baru menginjak 4 th, hanya saja karena tahun ini usianya akan 5 th maka diapun sudah boleh masuk sekolah di tadika (setara dengan taman kanak2 TK A).

Tapi hari ini aku begitu letih sekali setelah pulang dari sekolah kakaknya di sekolah SJKC (Sekolah Jenis Kebangsaan Cina) untuk menengoknya sejenak pada jam istirahat. Hal yang biasa aku lakukan pada sulungku seminggu sekali. Teringin sekali sebenarnya bisa menengoknya tiap hari pada jam rehat sekitar pk.10 pagi dan mengantarkan makanan panas untuknya seperti halnya ibu2 cina dan ibu2 melayu disini.

Aku pulang ke rumah sebelum waktu pulangnya Ichiro maksudku tadi aku akan langsung ke sekolahnya Chiro, tapi kemudian aku memutuskan untuk langsung balik ke rumah saja. Rasa lapar membuatku lemas rasanya. Baru teringat kalau ternyata tadi aku belum lagi sarapan. Biarlah kali ini aku minta tolong Bibi untuk mengambilnya di tadika.

Dengan seragam hijaunya dan peci hitam bermotif songket orange kemerah-merahan itu dia memasuki gerbang rumah dengan senyumnya yang mengembang, sebuah senyuman yang nakal terkadang. Sambil melepaskan sepatunya, kuwarkan diri melepaskan beg sekolah dan beg makanan yg menggantung di lehernya dan bahunya itu.

"Hi sayang, assalamualaikum...." sapaku padanya saat masuk ke dalam rumah.
Dia tidak langsung membalas sapaku.
"Eh, jawabnya apa dong kalau ada salam?" kataku.
"Waalaikumsalam...," balasnya dengan kata2 yang belum jelas. Hihihi lucu kalau dia jawab.
Tadi belajar apa di sekolah?" sambil ku buka baju seragam hijau yang begitu serasi di badannya yang putih itu.
"Tadi belajar  e mah (bunyi dalam alphabet english), mama ajarin chiyo ya..."

Dia langsung mengambil selembar kertas dari dalam begnya dan menunjukkannya kepadaku. Nampak selembar kertas putih kosong dengan hanya 1 huruf e saja menghiasi kertas yang dibawanya itu. Aku menerima kertas itu darinya.

"Ohhh tadi  kamu belajar e yah? bisa nulisnya?"
"Tak...iyo tak bisa...." lanjutnya cepat.
"Mama tulis dulu disini...," sambungnya lagi.
"Ok ok, mama tulis disini ya, nanti iyo coba tarik garisnya ikutin garis putus-putus yg mama buat..."

Aku kemudian menulis huruf e besar-besar dalam garis putus-putus supaya dia mudah mengikutinya. Maklumlah ini kali pertama dia mencoba menulis sebuah huruf.  Susah sekali nampaknya untuknya menarik garis permulaan  yang berawal dari kiri kearah kanan itu dan kemudian menarik balik ke atas, ke arah yang berlawanan sehingga membentuk setengah lingkaran dari sebuah huruf e.

"Eiiitts, kamu mau ngapain?" aku melihatnya beranjak dari kursi dan kini posisinya berada  disamping buku tulisnya. Oooo, rupanya dia mau narik garis. Kekekek.
"Nulisnya ngga boleh pindah-pindah, duduk situ yang rapi, bukunya juga jangan diputar-putar..." perintahku.
"Tapi iyo ngga bisa nulisnya..." sambil memasang muka masam.
"Bisa...Ichiro pasti bisa...Chiro nulisnya pelan-pelan jangan buru-buru tarik garisnya, ikutin garis putus-putusnya." kataku.

Selama setengah jam dia pun asyik menuliskan huruf e kecil dalam bukunya, beberapa lembar halaman buku tulisnya ditandai dengan huruf e yang seperti ceker ayam itu. Hmmm walau begitu usahanya patut dihargai.

"Nah..itu iyo bisa, pandai..." kataku seraya memuji tulisannya
"Bagus ngga ma?"
"Bagus....tapi nulisnya jangan kecil-kecil, besar lagi cantik,"

Dia pun menambah lagi beberapa huruf e ke dalamnya. Kemudian dia melukis sebuah huruf baru. Sebuah huruf b.
"Huruf apa itu?"
"b!!" ucapnya spontan.
"Di sekolah diajarin huruf b juga?" tanyaku.
"Kalau huruf b buat dulu tongkatnya yang panjang, terus baru perutnya di bawah...," kataku mencoba menterjemahkan karakter dari huruf b.

Sayapun mencontohkan huruf b pada halaman kertas yang baru. Diapun mulai menulis beberapa huruf b. Sepertinya huruf b lebih mudah ditulisnya dibandingkan huruf e.
"Tongkatnya panjangin dikit dong..., nanti dikira huruf a lagi." kataku.
"Oo..iye...,"
Kemudian dia memanjangkan tongkatnya, tapi kali ini kepanjangan. Terkadang perutnya juga terbalik sehingga menjadikannya huruf d. Hahaha hayo nak yang semangat!..
"Ma, mana yang bagus tulisan iyo ni..." katanya sambil memamerkan beberapa huruf b kepadaku.
"Hmm, yang mana ya, yang ini kali..."
"Bukan ma, yang ini," katanya sambil menunjukkan ke salah satu huruf b yang menurutnya cantik. Hehehe...buatku sih sama saja...
"Oh iya ya...yang ini lagi cantik...." pujiku.

Tiba-tiba dia menggabungkan huruf b dan e menjadi satu suku kata be. Kemudian dia menambah lagi suku kata be yang kedua disamping be yang pertama.

"b e b e...BIBI!! jadi bibi mah..." ucapnya spontan. Dia merasa senang sekali bisa menulis kata bibi. Dan aku jadi bengong sendiri mendengar ucapnya.
"bukan nak...itu bacanya BEBE, bukan BIBI..."
"mama, ini kan b e b e jadi bibi dong..." katanya protes. Hehe bener dia sih tapi ini konteknya dalam bahasa melayu jadi pengucapannya dalam kalimat yah menjadi BE.

Waduhhhh yang aku pikirkan benar terjadi. Dia pasti akan bingung dengan penjelasanku. Aku juga jadi bingung bagaimana mengajarkannya soalnya di Malaysia, alphabet abc disebutkan/dibunyikan dalam bahasa inggris jadi semisal mengeja ba bunyinya menjadi bi e BA.


"Ya sudah, pergi makan dulu ya, nanti lanjut lagi latihan nulis b dan e nya yang banyak., ok?..." kataku pada akhirnya.

Saya teringin mengajarkannya dalam lafal bahasa Indonesia seperti halnya saya mengajarkan kepada sulung saya waktu seumur dia. Tapi saya khawatir nanti dia akan bertambah bingung krn di sekolah dan di rumah berbeda.. Ya sudahlah...biarkan saja dulu...,  saya lihat dulu bagaimana cikgu disini mengajarkannya. Ada masanya nanti ketika dia sudah agak besar, dia akan bisa membedakannya sendiri.

Doa mama untuk kamu sayang...selalu!
---
(Mama selalu berdoa semoga Ichiro jadi anak pandai dan baik sama kawan....amin)

Rabu, 12 Januari 2011

Tepuk tangannya mana...?

Ini tentang Adul.
Si bontotku Abdullah Aidil Agung, atau Adul panggilan kesayangan kami padanya kini telah menginjak hampir 10 bulan. Sudah banyak tumbuh kembangnya. Giginya sudah 7 sekarang dan sudah pandai berdiri sendiri, lalu berjalan perlahan menyusuri tepi di setiap perobatan rumah kami.

Sekarang sudah tidak lagi seperti baby, melainkan seperti kanak-kanak yang juga punya banyak keinginan. Kepandaiannya yang bikin kita letih bukan kepalang apalagi kalau bukan menjatuhkan semua isi perabot rumah yang mudah digapainya... Gubrakk!!! atau keinginannya untuk masuk ke dalam fridge membuat kami kewalahan rasanya dan terpaksa menyeretnya kembali ke tempat asalnya. Hehehe...mungkin dia heran kenapa orang-orang dewasa senang sekali buka tutup kulkas. Hehehe. Dan jika pintu kulkas terbuka dia akan berlari dengan cepat (maksudnya merangkak dengan cepat). Dingin ya nak di dalam...

Rumput tetangga lebih indah dipandang --kita mungkin sudah seringkali mendengar peribahasa itu. Siapa sangka dia juga lebih tertarik dengan mainan dan barang-barang milik saudara-saudaranya (kakak dan abangnya), bahkan dia tidak tertarik sama sekali dengan mainannya sendiri, padahal mainannya sengaja dibelikan untuknya. Hikkkss.


Belajar sambil bermain. Yah memang itulah yang dilakukan oleh seluruh ibu di dunia saat mengajarkan komunikasi pertamanya. Adul pun sekarang sudah pandai tepuk tangan dan salaman (dengan membawa tangan saya ke arah mulutnya, senangnya daku...), tapi sayangnya dia hanya mau melakukan cium tangan ini hanya sama saya. Untuk papa dan bibi: jangan ngiri ya kalau Adul belum mau cium tangan sama kalian hehehe... Si papa ngga mau kalah, diapun mencoba melambaikan tangannya sambil berkata bye bye...bubye Adul...  sayangnya, lagi-lagi Adul masih terbengong-bengong melihat aksi si papa. Hahaha ya jelas sayang dia masih belum balik respon kan baru sekali ngajarinnya, harus diulang-ulang dong biar dia hapal....

Apalagi kalau abang sedang bermain sepak bola di dalam rumah, selalunya aku suruh tepuk tangan....dan adul pun akan tepuk tangan seperti yang aku tirukan padanya...dan abangpun jadi senang karena merasa tendangannya kerennn...Hahaha.

Apalagi kalau bibi sudah merentangkan kasur lipat untuk Adul, saya akan berkata bobo yuk...., dan dia seketika merebahkan kepalanya di atas kasur lipatnya itu. Kami jadi cekikikan dibuatnya.


Sayangku Adul, cepat besar ya Nak....jadilah anak yang sholeh dan pandai.
---

Benar ke anak kandung?

Gemas melihat si kakak yang membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan makanannya. Seringkali akhirnya akulah yang ambil alih untuk menyuapinya. Padahal aku masih lagi harus menyuapi si abang, adeknya yang berada 3 tahun di bawahnya. Lama-kelamaan kebiasaan tidak mandiri itu menjadi kebiasaan rutin yang aku jalani sehari-hari. Begitupun dengan acara mandi, seharusnya dia sudah bisa mandi sendiri, tetapi seringkali aku juga harus turun tangan untuk memastikan badannya disabun. Terkadang dia pun sengaja melalaikan dari kewajibannya untuk menggosok gigi. Dasar anak-anak!!

Hari itu, masih dalam rendaman air hangat saat mandi sore di petang hari itu, si kakak bertanya sesuatu yang mengejutkanku.
"Mama, aku ini anak kandung apa anak angkat?"aku tersentak dengar pertanyaannya tapi aku coba untuk mengawal diriku.

"Jelas Nanami anak mama, Nanami kan keluar dari perut mama..., jadi namanya anak kandung..."
"Benar ke anak kandung?"
"Iya dong.., Nanami anak mama dan papa...", kataku.
"Kenapa Nanami tanya begitu?" kataku balik tanya.
"Tadi di sekolah belajar anak kandung, anak angkat, anak tiri, anak buah, dan anak emas....", katanya mencoba untuk memberi penjelasan.
"O...begitu...", kataku.
"Tapi... Nanami bukan anak emas...", ucapnya pelan.
"Anak emas itu kan berarti anak kesayangan, siapa bilang Nanami bukan anak kesayangan mama? Nanami kan anak perempuan mama satu-satunya, jadi anak kesayangan mama dong..., ya kan?"
"Nanami, Ichiro dan Adul semuanya anak kesayangan mama..." senyumku pada si kakak yang telah menginjak darjah 2 itu 

Senyumnya mengembang sejurus mendengar penjelasanku. Aku pun rasa senang sekali melihat senyumnya.  Sembari menggosokkan badannya aku pun kemudian menjelaskan pengertian itu semua. Mudah-mudahan dia ngga salah persepsi dengan penjelasanku.

Malam harinya ketika hendak pergi tidur, aku memberitahu kepada suamiku pertanyaan yang ditujukan padaku tadi petang.. Dan Nanami pun mengulangi pertanyaan yang sama kepada papanya.

"Nanami itu anak kandung papa dan mama karena Nanami mirip dengan papa dan mama...," jawab papanya.
"Iya ke?" keraguan masih bersemat di hatinya rupanya..
"Iyalah...misalnya nih Farhan tinggal sama kita, nah mirip ngga Farhan sama papa dan mama? ngga kan, karena memang Farhan bukan anak kandung papa dan mama, tapi..., Farhan mirip dengan Pak Gigih dan bu Gigih karena Farhan itu anak kandungnya Pak Gigih dan Bu Gigih...", jelas suamiku membawa-bawa anak orang sebagai perumpamaan..
"Nanami kan mirip sama mama...", tambahku lagi.
"Lihat warna kulit kita sama, muka Nanami juga mirip sama Mama, cantik kita juga sama iya kan...?" lanjutku.
Kulihat dia tersenyum malu-malu seraya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Tapi, mama ngga cantik kok waktu masih muda...."
Papa tertawa cekikikan mendengan responnya yang polos.
"Iyalah..., mama ini tak cantiklah...., sudah sana pergi tidur, nanti terlambat bangun...", kataku mencoba mengakhiri percakapan kami malam itu.

Ahh Nanami, ada-ada aja pertanyaanmu. Mudah-mudahan kamu puas dengan jawaban mama dan papamu.

----